Uncategorized

Masjid Terbesar di Aceh yang harus Dikunjungi

Ajaran agama Islam tentunya sudah mengakar kokoh dalam sejarah penduduk Aceh. Menurut tulisan di sebuah naskah yang berumur cukup  tua yakni  Izhar al- Haqq, menjelaskan bahwa Aagam Islam mulai masuk ke wilayah Banda Aceh sekitar tahun 789 Masehi,yang mana pada saat itu telah  datang kapal asing yang hendak singgah di Bandar Perlak yang terletak di daerah Aceh Timur.

Kapal asing yang diketahui Nakhoda Khalifah itu bawa para saudagar Muslim dari Arab, Persia, serta India di dasar pimpinan nakhoda utusan Khalifah Harun ar- Rasyid bernama Bani Abbas.

Masjid Terbesar di Aceh yang harus Dikunjungi

Bagi komentar Snouck Hurgronje kala itu pengaruh Hinduisme begitu kokoh di Aceh. Perihal itu teruji dari terdapatnya nama- nama Hindu, semacam hikayat Sri Rama, Indrapuri ataupun Indraparwa di kota yang dijuluki Serambi Makkah itu.

Keramahan rombongan pimpinan Bani Abbas dalam berhubungan kala berniaga, mempraktikkan cara- cara bertani, bermasyarakat, serta beribadat membuat warga Perlak serta rajanya terkesan.

Eksistensi Islam di Aceh dibuktikan dengan banyaknya masjid memiliki yang bertahan sampai saat ini. Tidak hanya bagaikan tempat ibadah, masjid pula jadi tempat dakwah, pembelajaran serta kegiatan yang lain. Berikut 3 masjid memiliki di provinsi berjuluk Serambi Makkah itu:

Baiturrahman( Banda Aceh)

Masjid ini mulai dibentuk kala kerajaan Aceh dipandu Sultan Iskandar Muda( 1607- 1636). Namun, terdapat yang mengatakan pembangunannya dicoba pada masa tadinya. Sultan Iskandar Muda cuma melaksanakan revisi saja.

Abdul Hadi bin Baqir Zein yang cukup terkenal sebagai pendakwah di Masjid- Masjid Memiliki di Indonesia menarangkan, bahwa di samping sebagai tempat untuk ibadah, masjid ini dapat pula difungsikan bagaikan benteng pertahanan, semacam yang dicoba Sultan Alaidin Mahmud Syah( 1870- 1874).

Di masjid ini kerap pula diadakan musyawarah besar membicarakan strategi penyerangan serta mungkin serbuan Kompeni Belanda terhadap Kerajaan Aceh Darussalam.

Teungku Andjong

Masjid ini dibentuk oleh Syekh Abubakar bin Husin Bafaqih yang tiba dari

Hadhramaut, Yaman. Pembangunan masjid ini dicoba sebab atensi belajar Islam yang besar dari warga di wilayah Peulanggahan, Banda Aceh.

Masjid bukan cuma digunakan buat aktivitas ibadah, melainkan pula aktivitas musyawarah yang langsung dipandu Syekh Abubakar yang berjuluk Teungku Andjong yang berarti disanjung ataupun dimuliakan. Masjid ini dirancang sendiri oleh Teungku Andjong. Sehingga, bangunan masjid mempunyai karakteristik khas style Timur Tengah.

Indrapuri( Aceh Besar)

Masjid ini berdiri bagaikan wujud proses evolusi kebudayaan serta sekalian evolusi ideologis. Diucap evolusi sebab terbentuknya pergantian dari candi( tempat ibadah umat Hindu) jadi masjid berlangsung secara alamiah tanpa kekerasan, sehabis melewati kurun panjang pergantian budaya suatu komunitas.

Masjid Indrapuri terletak kurang lebih 25 kilometer ke arah Timur Banda Aceh. Walaupun dikala ini kita telah tidak dapat lagi memandang wujud candi Indrapuri secara utuh, masih terdapat sebagian bagian yang tersisa.

Candi ini berganti guna jadi masjid berkat seseorang penyebar Islam, ialah Abdullah Kanan ataupun Tengku Abdullah Lampeuneuen, berasal dari Peurelak, Aceh Timur. Dia tiba bersama Meurah Johan, seseorang pangeran Kerajaan Lingga( di wilayah Jambo Aye saat ini). Tujuannya adalah mengajak raja bersamaan dengan rakyat serta koloni-koloni kerjajaan Lamori untuk segera memeluk agama Islam.

Masjid Baitul Musyahadah

Salah satu masjid memiliki karakteristik khas tertentu serta populer di Banda Aceh ialah masjid Baitul Musyahadah Banda Aceh. Masjid tersebut terletak di Jalur Teuku Umar, Geuceu Kayee Jato, Banda Raya, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh.

Supaya bisa mendatangi masjid tersebut hingga bisa ditempuh dengan memakai moda angkutan kota yang terletak di Banda Aceh serta diketahui dengan nama Labi- Labi. Dekat 3 kilometer wisatawan bisa menempuhnya dari masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

Perihal yang unik serta jadi energi tarik dari masjid ini ialah terletak pada bagian kubahnya. Dimana bagian kubah  masjid tersebut sangatlah mirip dengan Kupiah Meukuetop ataupun kopiah tradisional dari provinsi Banda Aceh.

Kopiah tersebut kerap digunakan oleh pahlawan Nasional Teuku Umar pada dikala mengetuai perjuangan rakyat Aceh kala melawan penjajahan Belanda. Masjid Baitul Musyahadah ini diketahui warga dekat dengan istilah nama Masjid Teuku Umar.